Pinjam istrimu sebentar (1)

PINJAM ISTRIMU SEBENTAR

Karya: Wen Ru’e An.

Oleh: Tjan I.D.

 

Bab 1. Racun jahat “angin kilat”

 

Akhirnya ia bertemu musuh tangguh.

Disaat ia menundukkan kepala ingin minum air dari selokan, dijumpai ada sesosok bayangan indah yang susah ditangkap gerak geriknya, muncul di balik permukaan, butuh sinar matahari yang kelewat terang untuk menangkap bayangan tubuhnya secara lebih nyata.

Sekalipun  cuaca begitu kelabu dan gelap bagaikan warna pakaian yang dikenakan pendeta dalam kuil, namun sepasang matanya tetap tajam bagai cahaya kilat.

Bahkan diapun menemukan, dalam selokan tak ada ikan, tak ada udang, pun tak ada kecubung, tak ada seekor makhluk hiduppun berkeliaran disitu.

Setiap kali dia akan minum air, segera dijumpai baju tipis berwarna indah dan cerah itu muncul di permukaan.

Udara begitu dingin bagaikan jari tangan mayat, sementara salju yang melapisi puncak bukit bagaikan kain putih penutup wajah jenasah.

Dia ingin sekali membuat api unggun, tapi setiap kali berjongkok untuk membuat api, ia segera menemukan api yang disulut memancarkan cahaya bintang, kemudian disusul lidah api berwarna biru yang membara dan terendus bau kelabang yang terbakar bercampur bau mayat yang hangus.

Setiap kali menyulut api, segera akan muncul selapis asap tipis yang baunya setengah mati.

Ia tak lagi berani minum air, ia segera memadamkan semua api yang menyala.

Kini baik di dalam air maupun dibalik jilatan api, semuanya telah diracuni orang, bahkan racun yang digunakan adalah racun paling ganas “Angin kilat” yang sudah punah dari dunia persilatan semenjak enam puluh delapan tahun silam.

Racun itu dikirim melalui udara, membaur begitu bertemu air, mendekam bila bertemu api, mampus bila memasuki tenggorokan, bahkan racun itupun akan segera meledak bila bertemu udara yang kelewat panas.

Tentu saja orang yang melepaskan racun itu adalah seorang tokoh silat yang sangat tangguh.

Sudah cukup lama ia tak pernah bersua dengan jagoan tangguh semacam ini.

“Jangan terlalu memojokkan aku!” dengan penuh perasaan geram Wijing Jing-jing berpikir, dia tahu siapa yang telah melepaskan racun itu.

“Thio Hau dari Hway-im, kalau bukan keinginanmu, siapa lagi yang bisa menyuruh Put-huai hwesio bertindak? Kita berasal dari akar yang sama, mengapa harus saling membunuh? Kau tidak memberi kesempatan aku untuk bicara, memaksa aku memanggul kuali hitam, tidak memberi jalan kehidupan, dalam keadaan begini terpaksa aku harus berpaling, mengajak kau beradu nyawa”

Kini Wijing Jing-jing sudah mengambil keputusan, dia tak akan melarikan diri lagi.

Dia ingin bertanya kepada Thio Hau, mengapa memaksanya hingga terpojok, mengapa dia menginginkan kematiannya!

Bahkan bilamana perlu, dia tak segan untuk beradu jiwa dengannya.

Siapa sangka gara gara kecurigaannya ini, hampir saja dua lembar nyawa hohan dan masa depan seorang gadis cantik kandas ditengah jalan.

Kalau dihitung hitung, sebenarnya wijing Jing-jing masih mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan Thio Hau dari Hway-im itu, bukan Cuma dekat bahkan masih ada tali ikatan persaudaraan.

Bicara dari tingkat kesenioran, Thio Hau dari Hway-im itu masih terhitung kakak seperguruan Wijing Jing-jing.

Hanya saja, meskipun mereka berdua terhitung murid angkatan ke tujuh dari Ruang Can-keng-tong, namun kedua orang itu belum pernah belajar silat secara bersama.

Guru Thio Hau adalah Sui-hong-pu-ie (mengikuti angin kain berkibar) Liong Pek-cian, Cong-Tongcu atau ketua dari Ruang Can-keng-tong, orang ini mempunyai posisi yang terhormat dan harum namanya, karena itu dia tak pernah memandang sebelah mata atas kemampuan Su-sute (adik seperguruan ke empat)nya, Leng-hong-pu-tin (barisan kain menghadapi angin) Ting Yu-hong.

Karena tak tahan terhadap perlakuan kakak seperguruannya yang semena-mena, akhirnya Ting Yu-hong meninggalkan perkumpulan Cian-keng-tong dan secara diam diam mulai menerima murid, sejak itu dia jarang sekali bersua muka dengan toa suhengnya itu.

Dengan sendirinya Wijing Jing-jing yang belajar silat dari Ting Yu-hong pun sangat jarang bertemu dengan kakak seperguruannya Thio Hau dari Hway-in yang sejak dini sudah malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan, ilmu andalannya adalah seribu satu jurus ilmu pedang Hong-to-swan-kiam (golok angin pedang salju).

Secara beruntun akhirnya Liong Pek-cian dan Ting Yu-hong mangkat meninggalkan keramaian dunia, kali ini Ting Yu-hong berhasil “selangkah lebih duluan”, tapi tak sampai setahun kemudian Liong Pek-cian pun menyusulnya ke alam baka.

Disaat meninggal, Ting Yu-cian mati dalam keadaan sepi, tak seorang pun anggota ruang Cian-keng-tong yang datang melayat, katanya mereka tidak mengetahui akan berita kematiannya.

Berbeda dengan Liong Pak-cian, dia dikubur dengan upacara yang sangat megah, nyaris berbagai orang kenamaan dalam dunia persilatan datang melayat. Selain datang melayat, mereka pun datang menyampaikan selamat karena Thio Hau dari Hway In telah diangkat menjadi Cong-tongcu baru ruang Cian-keng-tong.

Wijing jing-jing hanya datang melayat, tidak hadir dalam perayaan pengangkatan ketua baru.

Dia memang tidak terbiasa dengan pergaulan yang begitu bebas, dia tak mampu menyesuaikan diri.

Maka dia datang secara diam diam, pasang hio, bersembahyang kemudian meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara.

Selama dia melakukan semua aktifitas, mungkin hanya seorang gadis cantik yang melihatnya. Sementara dalam menjalankan aktifitasnya, diapun hanya memperhatikan gadis cantik itu, biar hanya sekejap namun membuatnya tak pernah melupakannya.

Waktu itu dia hanya pergi melayat, sama sekali tidak menyambangi Thio Hau dari Hway In.

Saat itu nama besar Thio Hau ibarat matahari ditengah hari, ketenarannya menggetarkan seluruh kolong langit.

Sejak  To-pa sangjin mendirikan perkumpulan Can-keng-tong, selama tujuh generasi baru Thio Hau seorang yang mampu menguasahi ke seribu satu gerakan dari ilmu pedang Hong-to-swang-kiam (golok angin pedang salju) bahkan berhasil menyempurnakannya.

Bukan saja ia bernama besar malah istrinya berasal dari keluarga kenamaan, konon wajahnya pun amat cantik dan kungfunya cukup lihay.

Wijing jing-jing tidak terlalu senang menyambanginya dalam keadaan dan situasi seperti ini.

Dia curiga Thio Hau dari Hway-in mungkin sudah lupa kalau dirinya masih mempunyai seorang adik seperguruan.

Hingga Wijing Jing-jing mulai tenar namanya dalam dunia persilatan…… seorang diri dia menghancurkan Persekutuan Ku-han-beng, dengan sebilah golok menundukkan tiga belas sukma gentayangan Yu-leng-cap-sah, dalam semalam mengalahkan tujuh belas orang tianglo dari perkumpulan To-lo-hwee, bertarung melawan sembilan orang tauke dari bukit Kam-tong-san bahkan berduel sengit melawan ketua perkumpulan Ki-luan-pang yang bernama Soat Cing-han, semua orang baru mengetahui kekuatan sebenarnya dari jago muda ini.

Padahal ilmu pedang It-liu-liu-kiam dari soat Cing-han sudah mencapai puncak kesempurnaan, sedemikian hebatnya ilmu pedang ini hingga Siang-jan thaysu, tokoh nomor wahid dari kalangan hitam waktu itu harus mencoba sebanyak tujuh kali untuk menjebol ilmu pedang tersebut sebelum berhasil menciptakan ilmu tandingannya setelah menghabiskan waktu empat belas tahun, tapi pada akhirnya harus mati secara mengenaskan.

—– sejak peristiwa itu, ilmu pedang It-liu-liu-kiam milik Soat Cing-han disebut orang persilatan sebagai ilmu pedang yang tak terpatahkan.

Tapi pada akhirnya ilmu pedang itu toh tetap hancur ditangan Wijing Jing-jing.

Ia menggabungkan ke seribu satu gerakan dari ilmu pedang Hong-to-siang-kiamnya menjadi satu jurus serangan.

Jurus serangan itu dinamakan jurus “Seribu satu”.

Biarpun hanya satu jurus, namun daya kemampuannya sama seperti kedahsyatan yang dihasilkan seribu satu jurus serangan yang tergabung sekaligus.

Jurus serangan ini berhasil menjebol pertahanan ilmu pedang It-liu-liu-kiam. Soat Cing-han pun mengaku kalah.

Semenjak pertarungan itu, nama besar Wijing Jing-jing menjadi tenar diseantero jagad. Akhirnya semua orang tahu, rupanya selama banyak tahun hidup mengasingkan diri, secara diam-diam Ting Yu-hong dari Ruang Can-keng-tong telah melatih diri dengan tekunnya dan mewariskan seluruh kepandaian dahsyatnya kepada Wijing Jing-jing, satu satunya murid kesayangannya.

Diam diam Wijing Jing-jing melatih diri secara tekun, akhirnya berkat ketekadan, kecerdasan serta niat guru dan murid ini, mereka berhasil menghimpun ke seribu satu jurus ilmu Hong-to-soat-kiam (golok angin pedang salju) menjadi satu jurus saja, jurus “Jian-it” (seribu satu).

Sekalipun begitu, sesungguhnya kepandaian silat yang dimiliki Thio Hau dari Hway-im lebih tinggi atau ilmu silat dari Wijing Jing-jing yang jauh lebih tangguh? Tak seorangpun yang tahu.

Ke dua orang inipun belum pernah saling bertarung.

Namun ada satu hal yang pasti, selama ini nama besar Thio Hau dari Hway-im jauh lebih tenar.

Bagaimanapun juga, Thio Hau dari Hway-im adalah cong-tongcu dari Ruang Can-keng-tong, memegang tampuk kekuasaan yang sangat besar, anggota perguruannya sangat banyak, selain mempunyai posisi yang sangat tinggi dalam kalangan dunia persilatan, dia pun mempunyai hubungan dan koneksi yang amat luas dengan para pejabat tinggi Negara.

Berbeda sekali dengan Wijing Jing-jing.

Selama ini dia tak lebih hanya seikat rumput liar yang tumbuh dipadangalas, setan liar yang hidup gentayangan, bahkan berapa kasus perampokan barang kawalan yang disertai kasus pembunuhan berdarah ada sangkut paut dengan dirinya. Hingga kini dia hanya seorang “jago hebat dari aliran sesat” yang dipandang hina kaum putih dunia persilatan.

Kini, Wijing Jing-jing si jagoan dari aliran sesat ini sedang bersiap siap menyusup masuk ke dalam markas utama Ruang Can-keng-tong, markas yang dianggap sebagai sarang naga gua harimau bagi kaum lurus.

Dia ingin bertanya kepada cong-tongcu Ruang Can-keng-tong, yang juga merupakan toa-suhengnya, Thio Hau dari Hway-im. Merngapa selalu mengirim orang untuk membunuhnya?

Disaat ia sudah tak punya jalan untuk melarikan diri, bukan saja Wijing Jing-jing mulai menunjukkan sikap perlawanan, bahkan dia berencana akan langsung menyerang ke pusat markas lawan, mengobrak barik pertahanan intinya.

Kecuali menyerbu ke markas toa-suhengnya, dia memang sudah tak punya pilihan lain.

Sekarang, inilah saat yang paling tepat untuk melancarkan serangan balasan.

 

“Mencari selamat dengan mempertaruhkan nyawa” —- sekalipun ia tak bisa “selamat”, paling tidak dia bisa menggunakan kematiannya untuk melancarkan gempuran paling dahsyat. Bagi Wijing Jing-jing, tindakan semacam ini boleh dibilang cukup mantap dan memuaskan.

Asal dapat merasa puas, mantap dan tak perlu melukai orang, dia bertekad untuk melakukannya.

Kalau ingin menyerbu, hadapi semua bencana yang bakal menimpa. Bila ingin bertarung, bertempurlah habis habisan.

Dia berniat menyusup ke dalam markas Can-keng-tong, namun dia pun ingin menghadap secara terang terangan dengan mempersembahkan kartu nama.

Namun ia cukup sadar, tindakannya ini hanya sia sia belaka.

Belum tentu kartu namanya bisa jatuh ke tangan Thio Hau, kartu nama semacam ini sudah pasti akan dihadang lebih dulu oleh Bu-hong-siu (kakek penubruk angin) Ciat Gan-leng. Andaikata jatuh ke tangan wakil cong-tongcu Thio Ki-yang atau congkoan mereka Tan Ko-lian pun bisa diduga nasibnya setali tiga uang.

Kalau dirunutkan kembnali, sebenarnya si kakek penubruk angin Ciat Gan-leng masih terhitung ji-supek nya Wijing Jing-jing.

Ji-supek yang selama ini tak pernah pandang sebelah mata pun terhadap mereka guru dan murid berdua.

Thio Ki-yang adalah saudara Thio Hau, kungfunya terhitung cukup tangguh, sekarang dia menduduki posisi tinggi dalam Can-keng-tong, posisi yang memegang kekuasaan besar. Hampir semua urusan partai diatasi dan diselesaikan oleh dia serta  Tan Ko-lian.

Wijing Jing-jing juga tahu, pembunuh yang berulang kali meracuni dan berusaha menghabisi nyawanya adalah Gwa-sam-tong tongcu (tongcu ruang ke tiga luar) Put-hway hwesio serta Lwee-sam-tong tongcu (tongcu ruang ke tiga dalam) Peng Ling-pang.

Mengapa mereka selalu ingin mencelakainya?

Mengapa mereka selalu ingin membunuhnya?

Mengapa mereka selalu memojokkan dirinya, mendesak dirinya?

Bila ingin mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, dia harus mendatangi sendiri markas Can-keng-tong.

Dia harus mencari tahu hingga jelas, menanyai mereka hingga tuntas.

Kalau musti menyerbu secara sembarangan, bukan saja bakal menghadapi pertarungan sengit, bahkan sama sekali tak bermanfaat, karena itu diapun mengundang kehadiran tiga orang untuk bertindak sebagai ‘juri dan saksi’

Orang pertama adalah supek ke tiga nya, Tui-im-siu (si kakek penangkap bayangan) Lo To-biau.

Orang ke dua adalah seorang tokoh persilatan, wakil ciangbunjin perguruan Toa-mo-pay, Hee Thian-tok.

Orang ke tiga adalah seorang sahabat karibnya, orang persilatan menyebutnya siau-lo-it-ya-la-cun-yu (menarik hujan musin semi di tengah malam dari loteng kecil) Coa Kok-ki.

Seorang sahabat karibnya yang lain, Im-cing-wan-koat-lo-gwa-sam (bulan sibit diluar jendela ditengah malam yang mendung) Ong Sam-it tidak dapat hadir karena ada urusan lain.

Kendatipun ia sudah mendapat janji akan kehadiran tokoh tokoh silat itu, sayang, paling tidak sampai besok pagi mereka baru tiba disana.

Karenanya dia berencana akan melakukan percobaan, ingin bertemu lebih dulu dengan Thio Hau dari Hway-im.

—– Kenapa mereka ingin membunuhnya?

—- – Kenapa mereka ingin mencelakainya?

—– Kenapa mereka selalu mendesak dan memojokkan dirinya?

Sebelum pergi dari situ, dia ingin mencari tahu ….. andaikata mereka berjanji tak akan mencelakainya lagi, biar harus menyingkir lebih jauh pun bukan masalah baginya.

Bila diatas satu bukit tak mungkin menampung dua ekor harimau, apa salahnya dia menyingkir ke bukit yang lain? Terdapat begitu banyak bukit tinggi dikolong langit, dia tak ingin mengusik pandangan orang, tak ingin menyumbat jalan orang.

—– Dia tahu, bila harus menunggu sampai dilakukan persidangan terbuka, sekalipun urusan dapat diselesaikan, pihak lawanpun bakal kehilangan muka.

Oleh sebab itu, sebelum persoalan makin terkuak, sebelum kejadian ini tersebar luas dalam dunia persilatan, dia ingin menemui Thio Hou terlebih dulu, mengajaknya bicara secara pribadi, bicara empat mata.

Dia percaya Toa-suheng nya bukan manusia yang tak tahu aturan.

Diapun yakin Thio Hou dari Hway Im bukan seorang manusia rendah yang tak tahu malu, bukan seorang manusia yang tak tahu aturan.

Itulah sebabnya malam malam dia datang menyatroni  ruang Can-keng-tong.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, bukan pekerjaan sulit untuk menghindari dan menembusi pertahanan dari ruangan Can-keng-tong.

Tapi kalau ingin tidak ketahuan jejaknya, jangan lagi dia, bahkan cong-tongcu masa lalu Liong Pak-jian sendiripun belum tentu dapat melakukannya.

Justru karena belum pernah ada yang mampu melakukan, kali ini Wijing Jing-jing ingin mencobanya.

Jadi manusia baru berarti bila dapat melakukan pekerjaan yang tak dapat dilakukan orang lain. Selama ini Wijing Jing-jing selalu berpendapat: kalau ingin melakukan sesuatu, lakukan sebatas kemampuan, jangan menjadi seseorang yang paling top.

Namun bila pandangan tersebut diterapkan untuk seseorang yang belajar silat, jelas pemikiran semacam ini salah besar, bila tak mampu berlatih hingga mencapai puncak, apalah arti seorang ahli silat?

Selama ini dia selalu berpendapat: paling banter toh mati. Karena itu bila ingin menyerbu, dia langsung menyerbu, bila ingin bertarung, dia langsung bertarung, kalau banyak yang dikuatirkan, terlalu banyak dipikirkan, mending jadi manusia biasa saja.

Karena tak takut mati itulah maka dia berani mendatangi ruang Can-keng-tong.

Ketika memasuki bilik Leng-hong-sian, tempat penting dimana cong-tongcu membaca dan memeriksa segala dokumen, ia tidak menjumpai Thio Hou dari Hway Im berada disana.

Tapi dia bertemu beberapa orang yang sedang berunding dan mengadakan rapat disitu.

Mereka adalah Poh-hong-siu (si kakek penubruk angin) Ciat Gan-leng, Toh-day (keluar dari rahim) Thio Ki-yang dan Huan-kut (berganti tulang) Tan Ko-lian.

Saat itu mereka sedang berbicara dengan suara yang sangat rendah, suara yang sangat lirih.

Sikap mereka serius, tapi terkadang tersungging semacam senyuman licik yang keji dan buas.

Saat itu, sebenarnya Wijing Jing-jing tidak berniat mencuri dengar pembicaran mereka.

Namun kebetulan disaat lewat, dia mendengar mereka sedang menyinggung tentang ‘Wijing Jing-jing”, bahkan menyinggung pula soal perusahaan ekspedisi ‘Hong-im piaukiok’, benteng Han-eng-po dan perkampungan Si-kiam-sanceng.

Begitu mendengar, wijing Jing-jing pun segera berhenti sambil pasang telinga, ia mencuri dengar dengan seksama.

Ternyata umat persilatan berbondong-bondong hendak membunuhnya karena konon dia telah membekal barang kawalan dari perusahaan Hong-im piaukiok di wilayah Say-pak, bahkan menghabisi nyawa To-pik-thay-san (membelah bukit thaysan) Song Hau-swan beserta ke sebelas orang piausu yang mengawal barang barang itu.

ParaBu-lim Hohan memusuhi dirinya karena ia telah menyerbu ke atas bukit Eng-jau-gan, bahkan dalam semalaman telah merogol pocu hujin serta putrinya dari benteng Han-eng-po dan membunuhnya.

Parapejabat Negara dan petugas keamanan hendak membekuknya karena ia telah menyerang perkampungan Si-kiam-san-ceng, bukan saja telah membunuh delapan orang jagoan tangguh bahkan telah mencuri sepasang Lam-kwa-kok-kok (katak berwujud bligo) dan sepasang pedang Chu-cu-siang-yu-kiam.

Semua kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan boleh dibilang merupakan dosa besar yang tak bisa diampuni.

Tapi bagi Wijing Jingjing, kejadian ini merupakan satu peristiwa yang sangat membingungkan.

Tak satu kasus pun yang merupakan perbuatannya, dia merasa tak pernah berbuat seperti apa yang dituduhkan kepadanya.

Ia tak pernah mengusik orang orang perusahaan Hong-im Piaukiok, dia tak pernah singgah di benteng Han-eng-po, dia pun tak pernah berkunjung ke perkampungan Si-kiam-sanceng.

Baginya, ia justru selalu kagum dan hormat terhadap sepak terjang yang dilakukan orang orang Hong-im piaukiok, benteng Han-eng-po dan perkampungan Si-kiam-sanceng.

Tentu saja selain kasus besar diatas, masih ada berapa kasus lagi yang kesalahannya dilimpahkan keatas pundaknya, seperti membantai anggota perusahaan ekspedisi Hiat-hun-piaukiok, membunuh anggota Chi-in piaukiok, membegal barang kawalan Hui-in-piaukiok, menculik gadis cantik dari rumah makan Han-bi-lo………..

Padahal ia sama sekali tidak mengetahui akan kejadian tersebut, jangan lagi terlibat, mendengar pun tidak.

Itulah sebabnya, begitu mendengar semua kejadian, diapun segera mengerti apa gerangan yang telah terjadi.

Terdengar Ciat Gan-leng berkata:

“Kali ini, biar Wijing Jingjing terjun dan mandi di sungai Huang-ho pun jangan harap bisa mencuci bersih semua dosa dosanya. Bila ia berani menuntut keadilan secara terbuka, hmmm! Sama artinya dengan mencari kematian buat diri sendiri”

“Aku rasa lebih baik kita bersikap lebih hati hati” Tan Ko-lian menimpali, “kurang enak kalau sampai cong-tongcu mengetahui hal tersebut. Bagaimana pun peristiwa di perkampungan Si-kiam-sanceng saling berkaitan dengan peristiwa di Han-eng-po mapun Hong-im piaukiok, dalam kejadian ini, hasil kita sudah lebih dari cukup untuk dinikmati selama delapan, sepuluh tahun, kenapa musti menyerempet resiko lagi”

“Biarpun perkataanmu benar, tapi setelah kepalang basah, kenapa kita tidak bekerja sampai tuntas” sela Thio Ki-yang cepat, “betul hasil kerja kita cukup banyak dan tidak habis dipakai untuk kita semua, tapi pengeluaran harian di perkumpulan sangat besar…..”

“Hmmm, pengeluaran perkumpulan?” jengek Ciat Gan-leng, “aku rasa pengeluaran kedua bini mu itu yang kelewat besar, bukankah bulan berselang tanah seluaslimapuluh hektar disepanjang sungai Hway Im telah kalian beli?”

“Apa? Jadi kaupun tidak percaya kepadaku?” teriak Tan Ko-lian gusar.

“Masalahnya bukan percaya atau tidak. Dengan segala resiko kita berhasil mengumpulkan harta kekayaan itu, tapi selama ini kalianlah yang mengurusi semua harta tersebut, kalau ingin kami tidak curiga, ayoh biarkan aku dan Losam periksa pembukuan“

“Betul, beri kesempatan kepada kami untuk periksa pembukuan” Thio Ki-yang ikut menimbrung, “kalau tidak, bagaimana kami berdua bisa percaya”

“…………….” Ciat Gan-leng terbungkam seribu basa.

Dasar elang rangkus, tikus dan Anjing!!

Tentang Tjan I.D

Tjan ID, mulai menterjemahkan buku cerita silat di tahun 1969, judul pertama adalah: Tujuh Pusaka Rimba persilatan. hingga kini, tahun 2016, saya masih aktif menterjemahkan.
Pos ini dipublikasikan di Cerita silat bersambung.. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s