Semangat Pahlawan (1)

SEMANGAT PAHLAWAN

Oleh: Tjan I.D.

Bab I. Badai di See-Liang.

Pembukaan.

Bu-eng tahun lima belas bulan dua belas tanggal sepuluh, tengah hari, Pakkhia.

Seorang wanita tua berpakaian keraton setengah berbaring duduk disebuah bangku, cahaya matahari menyinari sisi wajahnya yang penuh keriput, menyinari butiran air mata yang membasahi pipinya, ia tampak amat sedih, tak diketahui masalah apa yang membuatnya nampak begitu sedih.

Tampak seorang pemuda berlari masuk ke dalam bangsal istana sambil berteriak keras:

“Ibu suri! Bu Tek-ho telah membunuh kakak kaisar, apa yang kita nantikan? Cepat turunkan perintah, bunuh seluruh anggota keluarganya, kita harus balaskan dendam kematian kakak kaisar!”

Ucapan tersebut segera disambut pekik terperanjat para pejabat sipil maupun militer yang berdiri disisi bangsal, seseorang segera berlari keluar dari barisan, ia mengenakan pakaian perang berlapis baja, sekilas pandang dapat diketahui bahwa dia adalah seorang panglima perang.

Dengan wajah hijau membesi ia berlutut sambil memohon:

“Lapor ibu suri, Bu Tek-ho amat berjasa kepada negara, kini situasi belum jelas, berita kematian baginda pun masih tanda tanya, sebelum masalah menjadi jelas, mana boleh perintah diturunkan untuk membunuh pembesar setia? Harap ibu suri berpikir tiga kali sebelum mengambil keputusan!”

Pemuda itu amat gusar, ia tendang wajah panglima perang itu sambil hardiknya:

“Yo Ang-thian! Dimasa lalu kau sangat akrab dengan bangsat itu, hari ini berani amat kau mintakan ampun baginya, dalam pandanganmu masih adakah kaisar?”

Panglima perang itu berperawakan tinggi kekar, walau ditendang, tubuhnya sama sekali bergeming, dia masih berlutut sambil menahan diri.

Seorang pembesar segera tampilkan diri dan berkata:

“Lapor ibu suri, membunuh seluruh keluarga Bu Tek-ho bukan urusan yang mendesak, kini negera sedang kalut, hal terpenting yang harus segera kita lakukan adalah mengangkat raja muda Bin-ong sebagai pengawas pemerintahan!”

Suara itu menggaung hingga ke tempat yang amat jauh, menimbulkan suara pantulan di seluruh bangsal istana.

Mendengar pelbagai usul yang diajukan para pembesar, perempuan tua itu termenung dengan wajah sangsi, tampaknya ia sedang mempertimbangkan semua usulan itu dengan serius.

Menyaksikan mimik wajah ibu suri, pemuda itu kelihatan sangat panik, tenggorokannya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi diapun kelihatan seakan menguatirkan sesuatu, terlebih para pembesar yang hadir disitu, kesangsian ibu suri membuat mereka semakin panik.

Lama, lama kemudian, akhirnya sambil menggigit bibir perempuan tua itu mengangkat tangannya yang gemetar dan pelan pelan menggapai.

Melihat hal itu para pembesar kegirangan, serentak mereka jatuhkan diri berlutut seraya berseru:

“Ibu suri sin-beng!”

Pemuda itu tertawa terbahak bahak, tak sempat bicara lagi ia segera menerjang keluar dari bangsal Seng-thian-tiam seraya berteriak keras:

“Pengawal! Kumpulkan semua pasukan raja muda Jin-ong dan segera berangkat ke ibu kota, aku akan balaskan dendam atas kematian kakak kaisar!”

Mendengar teriakan itu, kembali perempuan tua itu menggerakkan bibirnya yang gemetar seperti hendak mengatakan sesuatu, beberapa kali dia ingin bangkit berdiri, sayang kemauan ada tenaga tidak mendukung, akhirnya setelah menghela napas panjang ia jatuhkan diri berbaring lemas diatas bangku.

Sementara panglima perang yang masih berlutut itu dengan air mata bercucuran berpaling ke luar bangsal  Seng-thian-tiam, lalu sambil memandang langit nan biru, gumamnya lirih:

“Pa sian-ong, jangan salahkan aku, aku telah berusaha sekuat tenaga”

Tak lama kemudian berita besar itu tersiar keluar dari istana Keng-hok-Kiong, atas titah ibu suri, gerbang pintu ibu kota ditutup dan berada dalam pengawasan militer.

Kini pejabat pemerintahan telah terbentuk dan diketuai raja muda Bin-ong. Musyawarah para pejabat memutuskan untuk memanggil pulang tujuh belas divisi pasukan raja muda Jin-ong untuk balik ke ibu kota.

Diantara semua devisi perang itu tujuh devisi telah tiba di ibu kota, devisi Liong-siang (naga mendekam), devisi Pa-tao (macan kumbang bersembunyi) dan devisi Him-hui (beruang terbang) telah membuat tenda diluar kota, sementara devisi Sin-bu, devisi Hiong-bu, devisi Hong-siang dan devisi Thian-sut mendapat perintah masuk ke dalam kota untuk menumpas pemberontak.

Begitu pintu kota dibuka, lima puluh ribu pasukan berkuda serentak menyerbu masuk ke dalam kota, kilatan golok dan pedang berkilatan menusuk mata, paras muka semua prajurit tegang bercampur serius, seakan sedang menghadapi musuh besar.

Dalam kotaraja yang begitu luas hanya ringkikan dan derap kaki kuda yang terdengar, suasana di empat penjuru hening sepi tak kedengaran suara manusia, hawa pembunuhan yang tebal membuat rakyat kota kabur menyembunyikan diri, jangan lagi tampil ke jalan, mengintip dari balik dinding pun tak berani.

Pasukan besar bergerak langsung menuju istana raja Oh Tong, panglima perang yang berada dipaling depan segera membentak nyaring:

“Turun dari kuda!”

Berapa puluh ribu pasukan serentak melompat turun dari pelana kudanya dan berdiri berjajar didepan pintu gerbang. Semua orang mendongakkan kepalanya, mengawasi bangunan megah yang berada dihadapan mereka, bangunan dengan papan nama bertuliskan huruf emas:

“Bu-Tek-Ho-Hu”

Tiba tiba komandan pasukan itu memberi aba baba:

“Robohkan pintu gerbang!”

Dua baris tentara dengan menggotong sebatang kayu raksasa segera mendobrak pintu gerbang bangunan itu kuat kuat.

“Blaaam! Blamm! Blammm!”

Suara benturan keras berkumandang dari luar pintu, suara benturan keras karena lapisan dinding pintu yang ditumbuk dengan benda berat.

Puluhan orang tua, anak anak dan kaum wanita berkumpul ditengah aula dengan wajah pucat ketakutan, setiap suara benturan keras menggelegar, mereka berdiri makin menggigil, seolah olah setiap benturan itu sedang menghujam di ulu hati mereka. Berapa orang wanita mulai berangkulan sambil menangis.

Seorang nyonya muda berdiri tegar ditengah halaman, dari baju mantel bulu binatang serta penampilan wajahnya yang cantik dan anggun, dapat diduga kalau ia berasal dari keturunan kenamaan.

Waktu itu dia berdiri dengan menggandeng seorang bocah ditangan kirinya dan menggendong bayi ditangan kanannya, kedua orang bocah itu adalah anak kandungnya.

Seorang kakek berjalan menghampirinya dan bertanya dengan nada gemetar:

“Sebenarnya apa….. apa yang telah terjadi? Kenapa ada pasukan pemerintah yang menyerbu kemari?”

Nyonya muda itu menggeleng.

“Kemarin datang berita dari garis depan, konon pasukan yang dipimpin langsung sri baginda telah mengalami kekalahan yang tragis”

“Lalu……kenapa kita yang ditangkap?” tanya kakek itu dengan badan gemetar.

“Sudah pasti ada manusia busuk yang menghasut dan punya tujuan akan mencelakai kita”

Bagaikan dadanya dihantam dengan gada berat, tubuh kakek itu gemetar semakin keras, wajahnya pucat pias seperti mayat.

“Apakah kita hanya pasrah, menunggu datangnya kematian?”

Nyonya muda itu hanya menggigit bibir tanpa menjawab. Sementara bocah lelaki itu bersandar disisi kaki ibunya dengan tubuh gemetar keras.

Mendadak……. “Blaaam!” detak jantung semua orang seakan ikut berhenti dengan bergemanya suara getaran nyaring itu, serentak semua mata dialihkan ke pintu gerbang yang nyaris tumbang.

Kakek itu, dengan bibir gemetar bergumam berulang kali:

“Segera masuk…….. segera masuk………”

Kelihatannya tinggal sekali tumbukan lagi, pintu gerbang itu segera akan roboh.

Dengan suara lantang nyonya muda itu segera berseru:

“Harap semuanya dengarkan baik baik, segera berkumpul ke dalam ruangan untuk bersembunyi, pengurus Li, siapkan lencana emas penyelamat nyawa milik loya!”

Buru buru Li congkoan menyerahkan sebuah lencana emas ke tangan nyonya muda itu. Sebuah lencana emas berukirkan seekor naga, lencana yang diserahkan sendiri oleh Kaisar kepada keluarga mereka.

Nyonya muda itu menggenggam lencana sebesar telapak tangan itu kencang kencang, ia sadar, benda inilah merupakan satu satunya pengharapan bagi keluarga besar mereka untuk hidup lebih lanjut.

Kembali nyonya muda itu membungkukkan badan sambil menyerahkan bayi yang ada dalam bopongan ke tangan putranya.

“Bun-tiang, bawa adikmu dan masuk ke dalam rumah” perintahnya.

“Tapi ibu……. bagaimana dengan kau?” tanya bocah laki itu dengan nada gemetar dan wajah ketakutan.

Nyonya muda itu tersenyum, sahutnya:

“Ibu akan mengajak mereka berbicara, kau masuklah terlebih dulu”

“Tidak, aku tidak mau, aku ingin bersama ibu” teriak bocah lelaki itu sambil memeluk kencang kaki ibunya, dia tak mau menyingkir dari situ.

Buru buru nyonya muda itu memberi tanda kepada pengurus rumah tangganya, cepat Li congkoan maju ke muka dan menarik bocah lelaki itu  untuk diajak pergi.

“Ibu! Ibu!” teriak bocah lelaki itu sambil berpaling dengan wajah gugup.

Nyonya muda itu sama sekali tidak berpaling, ia tetap berdiri tegar ditengah halaman.

“Blaaam!” diiringi suara benturan keras, pintu gerbang rumah akhirnya jebol dan tumbang ke tanah, ditengah debu dan pasir yang berhamburan, terlihat seorang lelaki berwajah seram dengan jubah kebesaran dan menggenggam sebilah golok lengkung berjalan masuk ke dalam.

“Manusia tak tahu aturan dari mana yang telah datang!” hardik nyonya muda itu nyaring, “berani amat menyerbu masuk ke dalam rumah pejabat negara?”

Lelaki itu mendengus dingin.

“Kami mendapat perintah dari istana Tiong-jin-hu untuk menangkap seluruh penghuni Bu-tek-ho!”

“Hmmm, atas dasar apa kau berani bertindak lancang?” kembali nyonya muda itu mendengus dingin.

Dari sakunya lelaki itu mengeluarkan segulung surat dinas, lalu sambil meninggikan nada suaranya ia berseru:

“Bu-tek-ho Chin Pa  menghianati negara dan berusaha merampas kekuasaan, dosanya besar dan pantas diganjar dengan pembantaian sembilan keturunannya! Inilah cap kekuasaan dari Departemen kehakiman, periksa sendiri!”

Sembari berkata ia lempar surat dinas itu ke tanah.

Dalam pada itu dari luar gedung kembali terdengar suara bentakan nyaring diiringi suara langkah manusia yang ramai, kembali satu rombongan besar pasukan bersenjata lengkap menyerbu masuk ke dalam gedung.

Cepat nyonya muda itu menghadang ditengah jalan, teriaknya keras:

“Inilah lencana penyelamat nyawa yang dihadiahkan Kaisar kepada keluarga kami! Barang siapa berani mengganggu anggota keluargaku, akan kusuruh kalian rasanya imbasnya!”

Memandang lencana emas bersemu merah yang berada dalam genggaman wanita itu, serentak semua prajurit berdiri tertegun, untuk sesaat tak seorang pun berani merangsek maju.

Lelaki bergolok besar itu langsung menyerbu maju ke hadapan nyonya muda itu, bentaknya ketus:

“Minggir kamu!”

“Loya kami adalah pejabat eselon satu yang langsung berada dibawah perintah Sri baginda” ujar nyonya muda itu nyaring, “tanpa surat perintah dari enam departemen atau surat perintah langsung dari Kaisar, keluarga kami tak bisa diusik siapapun. Hmmm, kau anggap dengan kedudukan keluarga Chin kami, kalian bisa bertindak semaunya!”

“Kau mau mundur tidak?” bentak lelaki itu makin nyaring.

“Bajingan penghianat yang tak tahu malu, aku adalah istri dari keluarga Chin, kau anggap bentakanmu dapat menakutkan aku?”

Lelaki itu menarik napas dingin, sambil maju lagi berapa langkah, ancamnya:

“Kalau kau tetap memaksa, jangan salahkan kalau ujung golokku tak kenal ampun”

Tiba tiba dari luar gedung terdengar suara bentakan nyaring diikuti percikan darah segar berhamburan ke mana mana, jeritan keras pun bergema diseluruh ruangan, tampaknya telah terjadi suatu peristiwa tragis disitu.

Bocah lelaki itu tak bisa melihat keadaan diluar gedung, buru buru dia menarik tangan Li congkoan sambil bertanya:

“Bagaimana dengan ibuku? Bagaimana keadaan dia?”

“Sauya” sahut pengurus rumah tangga itu dengan air mata bercucuran, “ibumu…… dia……dia……”

Belum selesai ia berkata, dari luar gedung kembali terdengar seseorang berteriak keras:

“Semua penghuni keluarga Chin dengarkan baik baik, kalau masih ada yang berani menolak ditangkap, perempuan inilah contoh yang nyata, segera bunuh tanpa ampun!”

Menyusul teriakan itu, dalam waktu singkat satu pasukan prajurit bersenjata lengkap telah menyerbu masuk ke dalam gedung, semua tentara itu bergerak dengan senjata terhunus dan wajah yang garang dan buas.

Jeritan ngeri pun bergema memecahkan keheningan, berapa orang tentara mulai mengayunkan senjatanya membacok setiap orang yang dijumpai, darah segar berhamburan ke mana mana dan menggenangi seluruh halaman rumah.

Bocah lelaki itu semakin ketakutan, sambil memeluk adiknya erat erat teriaknya:

“Paman! Bagaimana dengan ibuku? Bagaimana dengan ibuku?”

“Cepat kabur!” seru pengurus rumah tangga itu sambil mendorong tubuh bocah itu kuat kuat, “cepat bawa adikmu dan kabur dari sini!”

“Sebelum bertemu ibu, aku tak akan pergi!”

“Cepat kabur, cepat lari……..” kembali pengurus rumah tangga itu berseru.

Sementara bocah lelaki itu masih bersikeras tak mau pergi, mendadak terdengar desingan angin tajam menyambar lewat, tahu tahu sebatang anak panah telah menancap dipunggung pengurus rumah tangga itu.

Tampak paras muka pengurus rumah tangga itu seketika berubah jadi pucat pasi, perlahan-lahan tubuhnya jadi lemas dan roboh terjungkal ke tanah.

“Paman Li, ke…..kenapa kau?” seru bocah lelaki itu ketakutan.

“Sauya……” dengan napas tersengkal pengurus rumah tangga itu mencengkeram bahu si bocah, “cepat…..cepat bawa adikmu…..kabur….kabur melalui lubang anjing! Jangan….. jangan sekali kali berpaling…………”

Sementara bocah lelaki itu masih ingin mengucapkan sesuatu, si pengurus rumah tangga dengan mengerahkan sisa kekuatan terakhirnya mendorong punggung bocah itu kuat kuat.

“Cepat kabur!” teriaknya.

Tubuh bocah lelaki itu maju sempoyongan karena dorongan kuat itu, dia masih ingin berpaling, tiba tiba dari kejauhan kembali terdengar suara jeritan lengking yang menyayat hati.

Bocah lelaki itu mengenali sebagai suara bibinya, mendadak rasa takut yang luar biasa mencekam hatinya, entah darimana munculnya kekuatan, buru buru dia peluk adiknya erat erat dan kabur menuju ke dapur bagian belakang.

Belum berapa langkah dia berlarian, tiba tiba dari arah belakang terdengar seseorang membentak nyaring:

“Bocah busuk, besar amat nyalimu, pingin melarikan diri?”

Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, goloknya langsung diayunkan ke depan,  membacok langsung punggung bocah itu.

Sambil menjerit lengking buru buru bocah lelaki itu merendahkan tubuhnya lalu menerobos melalui bawah kolong meja, bacokan golok itu segera mengenai sasaran kosong dan menghancurkan meja dihadapannya hingga remuk berantakan.

Buru buru bocah lelaki itu menerjang keluar dari dapur menuju halaman belakang, waktu itu bayi yang berada dalam pelukannya mulai menangis keras, dengan perasaan kaget, ngeri dan takut bocah lelaki itu lari semakin kencang, lari menuju halaman belakang.

“Sahabat kecil, mau kabur ke mana kau?”

Biarpun bocah itu masih kecil, namun ucapan tersebut menyadarkan dia bahwa tak ada harapan lagi untuk kabur dari situ, cepat ia mendongakkan kepalanya.

Terlihat seorang lelaki berwajah bengis sedang duduk disebuah bangku tepat ditengah halaman belakang, di belakang lelaki itu berdiri berjajar berpuluh orang prajurit bersenjata lengkap, semua tentara itu sedang memandang ke arahnya sambil tertawa dingin.

“Sahabat kecil, kau tak boleh sembarangan lari!” kembali lelaki itu mengejek sambil tertawa.

Bocah lelaki itu sangat ketakutan khususnya setelah melihat lelaki itu muncul dihadapannya, saat itulah dua orang prajurit yang berada disampingnya menerjang maju sambil berusaha menangkapnya.

Dalam terkejut dan takutnya, bocah lelaki itu sadar bila sampai tertangkap niscaya jiwanya bakal melayang, cepat dia bopong adiknya dan menerjang ke dinding pagar bagian belakang.

Dibawah dinding itulah terdapat lubang anjing yang dimaksud Li Toa-siok, tempat yang dihari hari biasa dilarang dikunjungi, tapi disaat mati hidup sudah berada diujung tanduk, lubang anjing inilah menjadi satu satunya jalan baginya untuk menyelamatkan diri.

Seperti seekor anjing kecil yang ketakutan, bocah lelaki itu merangkak masuk ke dalam lubang itu dengan sekuat tenaga, ia sempat mendengar suara bentakan prajurit yang berada di belakangnya, tapi sekuat tenaga ia bopong adiknya lalu dengan tangan lain membuka penutup bambu didepan lubang itu dan merangkak masuk ke balik lubang.

“Maknya!” terdengar berapa orang yang berada di belakangnya membentak, “setan cilik itu berusaha kabur…….”

Tak lama kemudian terlihat ada berapa orang berusaha menerobos masuk pula ke balik lubang anjing itu.

Sekuat tenaga bocah lelaki itu merangkak keluar lubang sambil membopong adiknya, siapa tahu baru saja akan menongol keluar, tiba tiba ia saksikan ada dua buah kaki berdiri menghadang dihadapannya.

Ketika diintip, ia lihat diluar lubang anjing telah berdiri berjajar begitu banyak tentara, setiap orang berdiri dengan golok terhunus, bocah lelaki itu sadar, diluar sanapun telah dipenuhi pasukan kerajaan, bila dia nekad keluar, bisa dipastikan jiwanya akan melayang.

Dalam gugup bercampur panik, mendadak terdengar seseorang menghardik:

“Setan cilik, mau kabur ke mana kau”

Bocah lelaki itu berpaling, tampak seorang lelaki berwajah menyeramkan telah merangkak mendekat dari belakang

Bocah itu ingin merangkak ke depan lagi, tapi situasi diluar jauh lebih bahaya dan menakutkan, dasar anak kecil, begitu sadar kalau jiwanya terancam dan bisa mati akhirnya meledaklah isak tangisnya.

“Blaaaam…..!” suara gemuruh keras yang memekikan telinga berkumandang di udara.

Ketika ia berpaling, terlihatlah dinding pagar yang tinggi itu sedang rubuh ke tanah dan langsung menindih tubuh kawanan serdadu yang berada di halaman dalam.

Dengan penuh rasa kaget bercampur heran bocah itu berpaling, ia jumpai seorang lelaki dengan mengenakan jas hujan terbuat dari bambu sedang berdiri diatas dinding, sebilah pedang terhunus ditangannya sementara di bawah kakinya penuh bergelimpangan tubuh tentara.

Berapa orang komandan pasukan yang melihat kejadian itu segera membentak keras:

“Hati hati, ada pemberontak! Kalian cepat maju, serangan dia, tangkap hidup atau mati!”

Busur segera dipentang, anak panah berdesingan membelah udara, berapa orang tentara berjongkok sambil tiada hentinya melepaskan anak panah kearah dinding.

Tiba tiba lelaki itu melompat turun, jas hujan bambunya dikebaskan ke muka, anak panah yang menyambar tiba seketika berhamburan ke mana mana, menyusul kemudian diiringi suara bentakan keras ia ayunkan pedangnya ke arah kawanan tentara itu.

Seorang tentara menyergap ke muka sambil mengayunkan goloknya, “traaang!” jeritan ngeri bergema lagi di angkasa, tahu tahu tubuh orang itu tertebas kutung jadi dua.

Kejadian ini segera mengejutkan kawanan tentara lainnya, berbondong bondong mereka mundur dari situ.

Menggunakan kesempatan itu lelaki tadi membopong bocah lelaki tersebut, katanya dengan suara dalam:

“Aku adalah Pui Cu-keng, sahabat karib ayahmu, mana ibumu?”

“Ibu, dia…..dia…….” air mata bocah lelaki itu jatuh bercucuran, suaranya kedengaran gemetar.

“Apakah ibumu sudah terbunuh?” tanya lelaki itu kaget.

Untuk sesaat bocah itu tak tahu bagaimana harus menjawab, ia menangis makin keras.

“Blaaammmm!” saat itulah kembali terdengar suara ledakan keras, bocah itu segera merasakan pinggangnya sakit sekali, ketika diperiksa, tampak darah bercucuran dengan derasnya dari pinggang, bahkan telah muncul sebuah lubang luka yang besar.

Dengan perasaan tercekat Pui Cu-keng menjerit:

“Aaah…. senjata…. senjata api!”

Saking kagetnya bocah lelaki itu sampai ternganga, luka tembak yang perih dan merasuk ke tulang membuat air matanya bercucuran semakin deras.

Tak terlukiskan rasa gusar Pui Cu-keng, bentaknya:

“Masa menghadapi seorang bocahpun kalian tega bertindak begitu keji!”

Dengan sorot mata berapi api penuh amarah ditatapnya orang yang memegang senjata api itu tanpa berkedip, tiba tiba pedangnya membabat lewat, membabat begitu cepat bagai sambaran petir, dalam waktu singkat terlihat batok kepala manusia beterbangan di angkasa.

Tampak sesosok bayangan hitam berkelebat kian kemari, dimana pedangnya menyambar lewat, batok kepala segera beterbangan lepas dari badannya.

Menyadari kelihayan orang, kawanan tentara itu seketika melarikan diri terbirit birit menyelamatkan diri.

“Cepat cari tempat perlindungan” perintah komandan pasukan itu, “gunakan senjata api untuk menghadapinya!”

Panji hitam dikebaskan berapa kali, dari balik bangunan rumah segera menyerbu keluar ratusan orang pasukan bersenjata api, sementara pasukan tombak serentak menusukkan senjatanya ke tubuh lawan.

Pui Cu-keng meraung keras, dia jejakkan kakinya ke tanah lalu menubruk ke arah berapa batang tombak yang sedang ditusukkan ke badannya, berada ditengah udara ia bersalto berapa kali sambil mengayunkan pedangnya.

“Breeet….!” tubuh komandan pasukan itu seketika terbabat hingga putus jadi dua.

Menyaksikan ketangguhan lawan, kawanan tentara itu semakin ketakutan, dalam waktu singkat mereka mundur lagi ke belakang.

Tiba tiba lelaki berwajah menyeramkan yang selama ini hanya duduk dikursi kebesaran itu melompat bangun sambil membentak:

“Pasukan senjata api, cepat turun tangan! Jangan sampai pemberontak itu melarikan diri!”

Serentak pasukan senjata api mempersiapkan senjatanya, moncong senjata sama sama diarahkan ke tubuh lelaki itu.

Sadar datangnya bahaya cepat Pui Cu-keng menjatuhkan diri ke bawah sambil bergulingan ditanah, desingan bergelegar diatas kepalanya, berapa biji peluru sempat menghajar diatas dinding menimbulkan lubang seperti sarang lebah.

Dia tak ingin meladeni pasukan tentara yang menggembol laras panjang itu, begitu tembakan pertama mereda, cepat ia menjejak kakinya ke tanah dan kabur lewat dinding pekarangan.

Kehebohan segera terjadi diluar dinding, berapa orang tentara berteriak keras:

“Pemberontaknya kabur, cepat kejar, pemberontaknya berada disini!”

Diantara kilauan cahaya golok, kembali berapa puluh pasukan Keng-wi menerjang maju.

Pui Cu-keng merogoh ke sakunya mengambil segenggam kim-piau lalu disambitkan ke depan, dalam waktu sekecap kembali belasan orang pasukan berguguran.

Dalam gugupnya kawanan tentara itu mundur lagi dari arena diikuti kemudian hujan panah kembali menyelimuti angkasa.

Cepat Pui Cu-keng mengebaskan jas hujannya sambil melindungi tubuh sendiri dan tubuh bocah lelaki itu dari ancaman.

Begitu sengit dan rapatnya kepungan musuh, membuat Pui cu-keng yang berilmu tinggipun akhirnya tak kuasa menahan diri, bahu kirinya kena sebuah tembakan sementara ketiak kanannya tertancap berapa batang panah.

Sembari menahan rasa sakit yang luar biasa ia menerjang ke kiri dan kanan, dengan gerakan paling cepat kembali ia bantai puluhan musuh, tapi keadaan dirinya semakin gawat, darah telah membasahi seluruh tubuhnya.

Saat itulah si bocah lelaki yang berada dalam pelukannya tak kuat menahan rasa sakit lagi, dengan badan gemetar keras ia terperosok jatuh dari pelukan Pui cu-keng.

“Sahabat kecil! Kau harus bisa mempertahankan diri!” bentak Pui Cu-keng keras keras.

Tentang Tjan I.D

Tjan ID, mulai menterjemahkan buku cerita silat di tahun 1969, judul pertama adalah: Tujuh Pusaka Rimba persilatan. hingga kini, tahun 2016, saya masih aktif menterjemahkan.
Pos ini dipublikasikan di Cerita silat bersambung.. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s